POLTEKAD KODIKLATAD
JURUSAN TEKNIK TELKOMMIL
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
LAPORAN PRAKTIKUM - 12
RANGKAIAN KONTROL MOTOR & DESAIN PENGGERAK MOTOR
OLEH :SERTU ANANDA HERDI AKBAR (20210621-E)
1. Tujuan. Agar Bintara Mahasiswa mampu membuat rangkaian kontrol motor & desain penggerak robot.
2. Alat dan Bahan.a. Live Wire;b. 3ds Max;c. Motor DC;d. Variable Resistor;e. Resistor;f. Transistor; g. Relay; h. Switch;
i. Osciloscope; danj. Baterai.
3. Dasar Teori.
a. Jelaskan tentang Motor DC. Motor Listrik DC atau DC
Motor adalah suatu perangkat yang mengubah energi listrik menjadi energi
kinetik atau gerakan (motion). Motor DC ini juga dapat disebut sebagai Motor
Arus Searah. Seperti namanya, DC Motor memiliki dua terminal dan memerlukan tegangan
arus searah atau DC (Direct Current) untuk dapat menggerakannya. Motor Listrik
DC ini biasanya digunakan pada perangkat-perangkat Elektronik dan listrik yang
menggunakan sumber listrik DC seperti Vibrator Ponsel, Kipas DC dan Bor Listrik
DC. Motor Listrik DC atau DC
Motor ini menghasilkan sejumlah putaran per menit atau biasanya dikenal dengan
istilah RPM (Revolutions per minute) dan dapat dibuat berputar searah
jarum jam maupun berlawanan arah jarum jam apabila polaritas listrik yang
diberikan pada Motor DC tersebut dibalikan. Motor Listrik DC tersedia dalam
berbagai ukuran Rpm dan bentuk. Kebanyakan Motor Listrik DC memberikan
kecepatan rotasi sekitar 3000 rpm hingga 8000 rpm dengan tegangan operasional
dari 1,5V hingga 24V. Apabila tegangan yang diberikan ke Motor Listrik DC lebih
rendah dari tegangan operasionalnya maka akan dapat memperlambat rotasi motor
DC tersebut sedangkan tegangan yang lebih tinggi dari tegangan operasional akan
membuat rotasi motor DC menjadi lebih cepat. Namun ketika tegangan yang
diberikan ke Motor DC tersebut turun menjadi dibawah 50% dari tegangan operasional
yang ditentukan maka Motor DC tersebut tidak dapat berputar atau terhenti.
Sebaliknya, jika tegangan yang diberikan ke Motor DC tersebut lebih tinggi
sekitar 30% dari tegangan operasional yang ditentukan, maka motor DC tersebut
akan menjadi sangat panas dan akhirnya akan menjadi rusak.
Pada saat Motor listrik DC
berputar tanpa beban, hanya sedikit arus listrik atau daya yang digunakannya,
namun pada saat diberikan beban, jumlah arus yang digunakan akan meningkat
hingga ratusan persen bahkan hingga 1000% atau lebih (tergantung jenis beban
yang diberikan). Oleh karena itu, produsen Motor DC biasanya akan mencantumkan
Stall Current pada Motor DC. Stall Current adalah arus pada saat poros motor
berhenti karena mengalami beban maksimal.
1) Bentuk dan Simbol Motor DC
Terdapat dua bagian utama
pada sebuah Motor Listrik DC, yaitu Stator dan Rotor. Stator adalah bagian
motor yang tidak berputar, bagian yang statis ini terdiri dari rangka dan
kumparan medan. Sedangkan Rotor adalah bagian yang berputar, bagian Rotor ini
terdiri dari kumparan Jangkar. Dua bagian utama ini dapat dibagi lagi menjadi
beberapa komponen penting yaitu diantaranya adalah Yoke (kerangka magnet),
Poles (kutub motor), Field winding (kumparan medan magnet), Armature
Winding (Kumparan Jangkar), Commutator (Komutator) dan Brushes
(kuas/sikat arang).
Pada prinsipnya motor listrik
DC menggunakan fenomena elektromagnet untuk bergerak, ketika arus listrik
diberikan ke kumparan, permukaan kumparan yang bersifat utara akan bergerak
menghadap ke magnet yang berkutub selatan dan kumparan yang bersifat selatan
akan bergerak menghadap ke utara magnet. Saat ini, karena kutub utara kumparan
bertemu dengan kutub selatan magnet ataupun kutub selatan kumparan bertemu
dengan kutub utara magnet maka akan terjadi saling tarik menarik yang
menyebabkan pergerakan kumparan berhenti.
Untuk menggerakannya lagi,
tepat pada saat kutub kumparan berhadapan dengan kutub magnet, arah arus pada
kumparan dibalik. Dengan demikian, kutub utara kumparan akan berubah menjadi
kutub selatan dan kutub selatannya akan berubah menjadi kutub utara. Pada saat
perubahan kutub tersebut terjadi, kutub selatan kumparan akan berhadap dengan
kutub selatan magnet dan kutub utara kumparan akan berhadapan dengan kutub
utara magnet.
Karena kutubnya sama, maka
akan terjadi tolak menolak sehingga kumparan bergerak memutar hingga utara kumparan
berhadapan dengan selatan magnet dan selatan kumparan berhadapan dengan utara
magnet. Pada saat ini, arus yang mengalir ke kumparan dibalik lagi dan kumparan
akan berputar lagi karena adanya perubahan kutub. Siklus ini akan
berulang-ulang hingga arus listrik pada kumparan diputuskan.
b. Jelaskan tentang Transistor
NPN sebagai Switching. Fungsi Transistor sebagai
sakelar sering digunakan di berbagai perangkat elektronik karena memiliki
keandalan yang signifikan dengan biaya yang lebih rendah apabila dibanding
dengan relay konvensional. Aplikasi switching jenis ini biasanya digunakan untuk
mengendalikan motor, beban lampu, solenoid dan lain-lainnya.
Sebuah Transistor dapat
beroperasi sebagai Sakelar apabila terdapat tegangan pada terminal Basis.
Ketika tegangan yang cukup (Vin > 0,7 V) diberikan diantara terminal basis
dan emitor dengan tegangan kolektor ke emitor kira-kira sama dengan 0V. Oleh
karena itu, Transistor bertindak sebagai penghubung (sirkuit tertutup atau
hubungan pendek). Arus kolektor Vcc / Rc akan mengalir melalui Transistor.
Demikian pula, ketika tidak
ada tegangan atau tegangan nol diterapkan pada input, Transistor beroperasi di
daerah cut-off dan bertindak sebagai sirkuit terbuka. Dalam jenis koneksi
switching, beban (dalam contoh ini adalah lampu LED) terhubung ke output
switching dengan titik referensi. Jadi, ketika transistor dinyalakan, arus akan
mengalir dari sumber (source) ke tanah (ground) melalui beban seperti pada
gambar dibawah ini.
2) Jelaskan tentang Relay. Relay adalah Saklar (Switch)
yang dioperasikan secara listrik dan merupakan komponen Electromechanical
(Elektromekanikal) yang terdiri dari 2 bagian utama yakni Elektromagnet (Coil)
dan Mekanikal (seperangkat Kontak Saklar/Switch). Relay menggunakan
Prinsip Elektromagnetik untuk menggerakkan Kontak Saklar sehingga dengan arus
listrik yang kecil (low power) dapat menghantarkan listrik yang
bertegangan lebih tinggi.
Pada
dasarnya, Relay terdiri dari 4 komponen dasar
yaitu :
1. Electromagnet (Coil)2. Armature3. Switch Contact Point (Saklar)4. Spring
Berikut ini
merupakan gambar dari bagian-bagian Relay :
2) IC 4017B. IC 4017B adalah suatu rangkaian terpadu yang berfungsi sebagai decade counter (Penghitung interval). Maksud dari decade counter yakni dapat merubah salah satu output menjadi berlogika tinggi secara bergantian dari output 0 hingga ke output 9 sehingga total output rangkaian ini berjumlah sepuluh buah dengan total pin/kaki sebanyak 16 dan memiliki fungsinya masing masing.Kontak Poin (Contact Point) Relay terdiri dari 2 jenis yaitu :
§Normally Close (NC) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan
selalu berada di posisi CLOSE (tertutup)
§
Normally Open (NO) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan
selalu berada di posisi OPEN (terbuka)
Berdasarkan gambar
diatas, sebuah Besi (Iron Core) yang dililit oleh sebuah kumparan Coil yang
berfungsi untuk mengendalikan Besi tersebut. Apabila Kumparan Coil diberikan
arus listrik, maka akan timbul gaya Elektromagnet yang kemudian menarik
Armature untuk berpindah dari Posisi sebelumnya (NC) ke posisi baru (NO)
sehingga menjadi Saklar yang dapat menghantarkan arus listrik di posisi barunya
(NO). Posisi dimana Armature tersebut berada sebelumnya (NC) akan menjadi OPEN
atau tidak terhubung. Pada saat tidak dialiri arus listrik, Armature akan
kembali lagi ke posisi Awal (NC). Coil yang digunakan oleh Relay untuk
menarik Contact Poin ke Posisi Close pada umumnya hanya membutuhkan arus
listrik yang relatif kecil.
Arti Pole dan Throw pada Relay
§
Pole : Banyaknya Kontak (Contact) yang dimiliki oleh sebuah
relay
§
Throw : Banyaknya kondisi
yang dimiliki oleh sebuah Kontak (Contact)
Berdasarkan
penggolongan jumlah Pole dan Throw-nya sebuah relay, maka relay dapat
digolongkan menjadi :
§
Single Pole Single Throw (SPST) : Relay golongan ini
memiliki 4 Terminal, 2 Terminal untuk Saklar dan 2 Terminalnya lagi untuk Coil.
§
Single Pole Double Throw (SPDT) : Relay golongan ini
memiliki 5 Terminal, 3 Terminal untuk Saklar dan 2 Terminalnya lagi untuk Coil.
§
Double Pole Single Throw (DPST) : Relay golongan ini memiliki
6 Terminal, diantaranya 4 Terminal yang terdiri dari 2 Pasang Terminal Saklar
sedangkan 2 Terminal lainnya untuk Coil. Relay DPST dapat dijadikan 2 Saklar
yang dikendalikan oleh 1 Coil.
§
Double Pole Double Throw (DPDT) : Relay golongan ini
memiliki Terminal sebanyak 8 Terminal, diantaranya 6 Terminal yang merupakan 2
pasang Relay SPDT yang dikendalikan oleh 1 (single) Coil. Sedangkan 2 Terminal
lainnya untuk Coil.
Selain Golongan
Relay diatas, terdapat juga Relay-relay yang Pole dan Throw-nya melebihi dari 2
(dua). Misalnya 3PDT (Triple Pole Double Throw) ataupun 4PDT (Four Pole Double
Throw) dan lain sebagainya.
Untuk lebih jelas
mengenai Penggolongan Relay berdasarkan Jumlah Pole dan Throw, silakan lihat
gambar dibawah ini :
2) IC 4017B. IC 4017B adalah suatu rangkaian terpadu yang berfungsi sebagai decade counter (Penghitung interval). Maksud dari decade counter yakni dapat merubah salah satu output menjadi berlogika tinggi secara bergantian dari output 0 hingga ke output 9 sehingga total output rangkaian ini berjumlah sepuluh buah dengan total pin/kaki sebanyak 16 dan memiliki fungsinya masing masing. 2) IC 4017B. IC 4017B adalah suatu rangkaian terpadu yang berfungsi sebagai decade counter (Penghitung interval). Maksud dari decade counter yakni dapat merubah salah satu output menjadi berlogika tinggi secara bergantian dari output 0 hingga ke output 9 sehingga total output rangkaian ini berjumlah sepuluh buah dengan total pin/kaki sebanyak 16 dan memiliki fungsinya masing masing. 2) IC 4017B. IC 4017B adalah suatu rangkaian terpadu yang berfungsi sebagai decade counter (Penghitung interval). Maksud dari decade counter yakni dapat merubah salah satu output menjadi berlogika tinggi secara bergantian dari output 0 hingga ke output 9 sehingga total output rangkaian ini berjumlah sepuluh buah dengan total pin/kaki sebanyak 16 dan memiliki fungsinya masing masing. IC 4017 sendiri dikendalikan dengan clock atau pulsa (gelombang kotak) yang nantinya akan menentukan kecepatan perpindahan output dari IC 4017 itu sendiri. semakin tinggi frekuensi dari clock yang dimasukan ke kaki 14 pin ic 4017, maka akan semakin cepat pula perpindahan logika dari output IC tersebut.
3) Resistor. Pada dasarnya Resistor adalah komponen Elektronika Pasif yang memiliki nilai resistansi atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian Elektronika. Sedangan Variabel Resistor berarti jenis Resistor yang nilai resistansinya dapat berubah dan diatur sesuai dengan keinginan.
4) Variabel Resistor. Pada dasarnya Resistor adalah komponen Elektronika Pasif yang memiliki nilai resistansi atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian Elektronika. Sedangan Variabel Resistor berarti jenis Resistor yang nilai resistansinya dapat berubah dan diatur sesuai dengan keinginan.
5) Kapasitor. Kapasitor (Capacitor) atau disebut juga dengan Kondensator (Condensator) adalah Komponen Elektronika Pasif yang dapat menyimpan muatan listrik dalam waktu sementara dengan satuan kapasitansinya adalah Farad.
6) PCB. PCB merupakan singkatan dari Printed Circuit Board yang merupakan sebuah papan yang penuh dengan sirkuit dari logam yang menghubungkan komponen elektronik yang berbeda jenis maupun sama satu sama lain tanpa kabel.
7) LED. LED (Light Emitting Diode) adalah Sebuah lampu kecil yang digunakan sebagai penanda atau pointer. Light Emitting Diode adalah salah satu komponen elektronika yang terbuat dari bahan semi konduktor jenis dioda yang mempu mengeluarkan cahaya. Strukturnya juga sama dengan dioda, tetapi pada LED elektron menerjang sambungan P-N (Positif-Negatif). Untuk mendapatkan emisi cahaya pada semikonduktor, doping yang pakai adalah galium, arsenic dan phosporus. Jenis doping yang berbeda menghasilkan warna cahaya yang berbeda pula.
4. Langkah Langkah Percobaan. a. Menyiapkan alat dan komponen yang akan digunakan untuk percobaan.b. Pembuatan rangkaian Running LED seperti ditunjukkan pada gambar. c. Pembuatan data hasil percobaan.
5. Analisa dari Data Hasil Percobaan.
Rangkaian LED tersebut apabila diberikan tegangan maka IC 555 yang berfungsi sebagai pewaktu akan bekerja. Kaki 3 pada IC 555 dihubungkan dengan IC 4017. Untuk masing-masing output di IC 4017 disambungkan dengan lampu LED yang sudah disusun sebanyak 10 buah. Kedipan yang terjadi pada lampu-lampu LED tersebut dipengaruhi oleh trigger IC 555 yang bekerja. Rangkaian lampu berjalan diatas menggunakan 10 buah LED sebagai indicator keluaran. Kecepatan kedipan lampu ditentukan oleh nilai R1, C1 dan VR1. Semakin besar nilai dari ketiga komponen tersebut maka jangka waktu akan semakin lama dan begitu juga sebaliknya.
5. Kesimpulan. Dari percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa suatu rangkaian running LED yang terhubung dengan IC 4017 merupakan jenis IC CMOS yang berupakan IC gerbang logika dalam kemasan IC dan memiliki 10 output yang bekerja atau aktif secara bergantian, untuk mengaktifkan output ini terdapat pin clock yang terhubung dengan output IC NE555.Selain IC 4017 terdapat IC NE555 yang juga merupakan komponen penting pada running led ini, dimana fungsinya sebagai penghasil clock atau pulse untuk mengaktifkan output IC 4017, terdapat sebuah potensiometer atau resistor variabel yang berfungsi untuk mengatur waktu tunda (delay) dari output IC NE555.
Rangkaian LED tersebut apabila diberikan tegangan maka IC 555 yang berfungsi sebagai pewaktu akan bekerja. Kaki 3 pada IC 555 dihubungkan dengan IC 4017. Untuk masing-masing output di IC 4017 disambungkan dengan lampu LED yang sudah disusun sebanyak 10 buah. Kedipan yang terjadi pada lampu-lampu LED tersebut dipengaruhi oleh trigger IC 555 yang bekerja. Rangkaian lampu berjalan diatas menggunakan 10 buah LED sebagai indicator keluaran. Kecepatan kedipan lampu ditentukan oleh nilai R1, C1 dan VR1. Semakin besar nilai dari ketiga komponen tersebut maka jangka waktu akan semakin lama dan begitu juga sebaliknya.
Selain IC 4017 terdapat IC NE555 yang juga merupakan komponen penting pada running led ini, dimana fungsinya sebagai penghasil clock atau pulse untuk mengaktifkan output IC 4017, terdapat sebuah potensiometer atau resistor variabel yang berfungsi untuk mengatur waktu tunda (delay) dari output IC NE555.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar